Agenda Paroki

S M T W T F S
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 1 2 3 4 5

Login Email

We have 45 guests online
HARI MINGGU BIASA XXIX PDF Print

BOLEHKAH MEMBAYAR PAJAK KEPADA KAISAR?

 

 Bacaan Liturgi : Yes. 45:1,4-6Mzm. 96:1,3,4-5,7-8,9-10ac1Tes. 1:1-5bMat. 22:15-21

 

 Untitled

 

“Mengabdi kepada dua tuan.” Bolehkah? Bagi Yesus itu jelas tidak boleh: “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan…” (Mat 6:24). Haruskah seorang membayar pajak kepada kaisar? Menurut Yesus itu wajib: “Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar…”(Mat 22:21). Apakah jawaban Yesus atas pertanyaan tentang membayar kepada kaisar ini tidak bertentangan dengan ajaran Yesus tentang tidak boleh mengabdi kepada dua tuan? Apa hubungannya antara mengabdi dan membayar pajak? Hhh orang Farisi hanya suka cari-cari masalah saja.

 

Saudari-saudara terkasih, selamat jumpa lagi pada hari Minggu ke-29 yang merupakan juga Minggu Misi atau juga Minggu Evangelisasi. Bacaan-bacaan pada hari ini mengajak kita untuk merefleksikan sejauh mana kita mengabdi kepada Allah dalam kaitan dengan tanggungjawab kita dalam kehidupan bermasyarakat. Tanggungjawab yang merupakan kewajiban berbeda dengan pengabdian yang bukan hanya kewajiban. Pengabdian berasal dari kata “abdi” atau “hamba”, kata kerjanya mengabdi, berarti menghambakan atau memberikan diri seutuh-utuhnya. Lebih daripada kewajiban, mengabdi dilandasi oleh rasa syukur, mencintai, sikap kepatuhan dan taat. Tanggungjawab merupakan kesadaran untuk melaksanakan tugas dan kewajiban. Wajib berarti sesuatu yang harus dilakukan karena telah disepakati, diatur atau diundangkan. Pertanyaan orang-orang Parisi kepada Yesus: “Bolehkah membayar pajak kepada kaisar atau tidak?” terkait dengan pewartaan Yesus tentang Kerajaan Allah: ketika Messias datang maka sesungguhnya kerajaan Allah telah datang. Orang-orang Parisi hendak menjebak Yesus yang mewartakan Kerajaan Allah dengan menampilkan ada kekuasaan lain yakni kekuasaan Kaisar. Yang mereka harapkan adalah bahwa Yesus tersudut: jika menjawab ‘boleh’ berarti ia menentang sendiri ajaran-Nya tentang kuasa Kerajaan Allah, jika menjawab ‘tidak boleh’ maka mereka akan punya alasan untuk menangkap Yesus dan menyerahkan kepada kaisar sebagai orang yang memberontak terhadap kaisar. Jawaban Yesus ternyata sangat mencengangkan. Dengan menggunakan mata uang yang ada pada mereka Yesus menyatakan: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” Dengan pernyataan ini Yesus tidak mau menyatakan bahwa ada dua kekuasaan: Kaisar dan Allah. Yesus tidak menyetarakan kekuasaan Kaisar dengan kekuasaan Allah. Kerajaan Allah bukanlah perkara kuasa duniawi seperti kekuasaan Kaisar. Kekuasaan Kaisar terkait dengan hak dan kewajiban berdasar pada aturan sedangkan Kuasa Kerajaan Allah terkait dengan kepatuhan, pemberian diri dan pengabdian karena rasa kasih dan syukur. Kuasa Kaisar membawa kewajiban karena peraturan yang ditetapkan. Melanggar berarti hukuman. Kuasa Kerajaan Allah membawa kepatuhan, pengabdian, dan perutusan. Tidak mematuhi tidak langsung dihukum tetapi rugi sendiri. Memberikan yang wajib kepada Kaisar atau kepada Allah bukanlah pembagian kekuasaan menjadi 50%-50%, sama seperti kita ini 100% Katolik 100% Indonesia, bukan setengah-setengah. Membayar pajak kepada Kaisar tidak mengurangi kewajiban pengabdian kepada  Kerajaan Allah. Sebaliknya semakin kita mengabdi Allah harus membuat kita juga sadar kewajiban kita kepada pemimpin-pemimpin negara asal mereka hidup benar juga. Karena Allah telah mengasihi kita maka kitapun harus hidup di dalam kasih kepada Allah. Kasih kepada Allah harus menjadi nyata dalam kasih kepada kekasih-kekasih Allah yang adalah sesama dan lingkungan hidup kita. Dalam kasih kepada sesama inilah terletak tanggungjawab dan kewajiban-kewajiban kita kepada sesama ataupun masyarakat dan lingkungan kita.

Saudari-saudara, minggu misi juga disebut minggu Evangelisasi untuk menekankan bahwa perutusan kita dilandasi oleh pengalaman kasih kita kepada Allah ini. Perutusan bukan hanya kewajiban karena perjanjian-perjanjian ataupun aturan-aturan melainkan sebagai jawaban atas pernyataan dan perbuatan cinta Allah kepada kita. Perutusan merupakan luapan cinta dari masing-masing kita kepada Allah. Semakin orang merasa dicintai oleh Allah seharusnya semakin mempunyai semangat evangelisasi yang tinggi pula yakni mewartakan pengalaman kasih itu dengan berbagi kasih juga. Selamat berevangelisasi dengan mengamalkan Pancasila sesuai ArDas KAJ.

 

Tuhan memberkati.

 

Rm Pur MSC

Last Updated on Thursday, 26 October 2017 18:30
 


Powered by Joomla!. Designed by: moodle hosting semi dedicated server hosting Valid XHTML and CSS.